Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Yogyakarta, Hadirkan Teatrikal

Yogyakarta, (POROS). Setelah melakukan dua kali aksi yang berujung bentrok, (20/11) Aliansi Mahasiswa se-DIY menggelar aksi damai di Pertigaan Kampus UIN Sunan Kalijaga Jl.Laksda Adisucipto dengan konsep teatrikal. Teatrikal yang ditampilkan menggambarkan pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya.

Aliansi mahasiswa terdiri dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), SMI (Satria Muda Indonesia), REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), SEKBER (Sekretariat Bersama), FAM-J, PEMBEBASAN, CAKRAWALA, BEM UIN (Badan Eksekutif Mahasiswa UIN) dan FL2MI (Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa).

Mereka menolak kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Penolakan ini tentunya dengan solusi-solusi yang ditawarkan yaitu, negoisasi kontrak karya migas dan nasionalisasi aset-aset asing dibawah kontrol rakyat, berantas mafia migas yang jelas-jelas merugikan rakyat, implementasikan pajak progresif, cabut UU Migas No.22 Tahun 2001 yang meliberalisasikan sektor migas dan laksanakan pasal 33 UUD 1945.

“Aksi ketiga kalinya ini dilakukan sebagai bentuk pentingnya isu nasional ini untuk segera diubah oleh pemerintah,” ujar Latif perwakilan dari HMI cabang UII (Universitas Islam Indonesia). Mereka membagikan selebaran-selebaran kepada massa aksi, awak media dan polisi yang tengah menjaga.

Sebagaimana tertulis dalam selebaran tersebut, kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada sektor industri. Dimana akan memicu kenaikan biaya produksi, sehingga pilihannya adalah menaikkan harga barang hasil produksi atau memangkas upah pekerja. (red)

“Jokowi yang dipilih karena pro rakyat dan suka blusukan, ternyata sekarang malah menyengsarakan rakyat,” begiupun yang disampaikan dalam orasi politik oleh Ahmad Badri perwakilan BEM UIN Sunan Kalijaga.

Pasukan polisi memposisikan diri membentuk pagar dengan perlengkapan yang komplit. Namun hal itu tidak membuat massa aksi terpancing untuk melakukan tindakan anarkis seperti yang dilakukan beberapa hari lalu. Agar tak terprovokasi, lantunan yel-yel pun dinyanyikan, satu komando, satu tujuan.

Pukul 16.40 WIB Masa mengakiri aksi mereka dengan bersama-sama menyanyikan lagu darah juang. Beberapa pasukan polisi pun satu per satu membubarkan diri dari posisi awal. [Lita, Nurul]

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *