Bambang : Jurnalis Masih Rentan Jadi Target Pembunuhan

Kamis 8 November 2018 Pers mahasiswa (persma) Poros mengadakan diskusi dengan tema pembunuhan terhadap jurnalis  Jamal Khashoggi yang dipantik oleh wartawan senior, Bambang Muryanto selaku pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogykarta di Kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Diskusi ini dihadiri oleh Motion program studi Ilmu Komunikasi UAD dan persma dari universitas lain seperti Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Presisi ISI Yogyakarta, LPM Ekspresi UNY, serta LPM Journal Amikom. Diskusi ini dimaksudkan untuk  memberikan pengetahuan tentang tindakan represif terhadap kebebasan pers.

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis Arab Saudi yang 2 Oktober lalu terbunuh saat mengunjungi gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Khashoggi adalah jurnalis senior yang juga dikenal sering mengkritik pemerintahan Arab Saudi. Bambang menjelaskan, “Dari terbunuhnya Khashoggi membuktikan jurnalis masih sangat rentan untuk jadi target pembunuhan atas tindakan kritis mereka. Sebelum kasus Khashoggi juga ada wartawan dari Bulgaria yang tewas diperkosa sebelum akhirnya dibunuh.”

Di Indonesia sendiri khususnya di Yogyakarta, ada wartawan yang bernama Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin, yang terbunuh pada tahun 1996 oleh orang tak dikenal dan hingga kini pelakunya belum dihukum.

Menurut Bambang pelaku kekerasan terhadap jurnalis sangat beragam tergantung kasus, jika meliput di daerah konflik antar negara bisa jadi pelakunya tentara dari salah satu negara konflik tersebut. Jika meliput kasus korupsi bisa jadi kekerasan dilakukan oleh aparat pemerintah yang tidak ingin perbuatannya diketahui publik. AJI mencatat di tahun 2017 ada 60 kasus kekerasan terhadap wartawan.Terbanyak dilakukan oleh sipil atau warga yakni 17 kasus, polisi sebanyak 15, pejabat pemerintah sebanyak 7, dan TNI 5 kasus. Pelaku biasanya adalah orang-orang yang merasa dirugikan jika tindakannya diberitakan di media massa. Mirisnya, menurut Bambang, hampir sebagian kasus tidak bisa  sampai ke ranah hukum.

Upaya pencegahan kekerasan terhadap jurnalis, seperti yang dikatakan Bambang, diantaranya memahami kode etik jurnalistik dan memahami kondisi yang ada di daerah yang akan diliput, seperti daerah konflik atau bencana.

Penulis : Siska (Magang Poros 2018)

Editor : Nur

Please follow and like us:

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *