Gara-Gara Jangkrik Jadi Duta IPTEK

        Selama ini jangkrik kerap dianggap sebagai binatang pengganggu atau bagi sebagian orang binatang yang menjijikan. Namun di tangan mahasiswa Tekhnik Industri Universitas Ahmad Dahlan ini, jangkrik berubah menjadi berkah.

        Aswindra Aji Kurniawan, mahasiswa semester akhir, belakangan ini disibukkan oleh rutinitas barunya sebagai peternak jangkrik. Berawal dari hobinya berternak, pria kelahiran 1993 ini menemukan Aplikasi Perancangan Pendampingan Peternak Jangkrik. Aplikasi ini dapat memudahkan para peternak untuk mengetahui jadwal reproduksi jangkrik melalui metode Android Cloud to Device Messaging.

        Berikut petikan wawancara reporter Poros dengan Aswin, sapaan akrabnya. Script wawancara ini mengalami proses edit tanpa mengurangi substansi pesan yang ingin disampaikan.

Kenapa beternak jangkrik?

       Dari kecil sebenarnya saya hobi beternak. Dulu saya memelihara ayam dan kambing. Namun setelah membaca sebuah buku tentang ternak jangkrik, ternyata binatang ini lebih menjanjikan karena di Yogyakarta selama ini kebutuhan akan jangkrik disuplai dari Jawa Timur. Sedangkan kebutuhan jangkrik terus bertambah seiring dengan bertambahnya pecinta burung di Yogyakarta.

       Berdasarkan survei saya di pasar, pengepul maupun toko pakan burung bisa menjual 150 kilogram jangkrik per harinya. Maka dari itu saya menekuni dan mengembangkan ternak jangkrik agar bisa memenuhi kebutuhan pasar.

      Selama ini jangkrik jadi santapan burung ocehan seperti burung Murai, Kacer, Jalak dan Sirtu. Selain untuk pakan burung, jangkrik sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kosmetik dan biskuit. Di beberapa negara maju jangkrik telah diolah menjadi kudapan yang bernutrisi.

Bagaimana Kondisi ternak anda sekarang?

       Ternak ini sudah saya geluti selama tiga tahun sejak tahun 2013. Sekarang saya sudah memiliki 32 kotak kandang, saya letakan di belakang rumah. Kalau dulu saya letakan di dapur.

Omset perbulannya berapa?

        Kalau penghasilan kotornya sudah mencapai 10 juta per bulan.

Darimana inspirasi pembuatan aplikasi ini?

       Saya terinspirasi dari seringnya para peternak yang gagal dalam memberi pakan dan memanen jangkrik. Oleh karena itu aplikasi ini hadir untuk meminimalisir kerugian yang dialami peternak. Untuk pembuatanya saya garap mulai dari bulan Januari dan sekarang masih tahap penyempurnaan. Saya merancang aplikasi ini untuk membantu para peternak jangkrik pemula yang mayoritas masih bingung dalam beternak.

        Daripada harus mendampingi para peternak lain secara door to door maka saya merancang aplikasi ini. Melalui aplikasi ini para peternak pemula lebih mudah dalam melakukan proses ternak.

Bagaimana cara kerja Aplikasi ini?

           Aplikasi ini bekerja dengan cara memberi peringatan kepada server terkait jadwal memberi pakan, perawatan dan panen jangkrik. Dalam beternak hewan ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dan jika lalai maka panen kemungkinan besar akan gagal.

      Untuk tahap kerjanya, pertama, peternak mengatur jadwal telur menetas melalui web ketika membeli telur. Setelah itu data akan masuk ke server lalu server mengirimkan pemberitahuan otomatis melalui perangkat Android yang dimiliki peternak. Peternak akan mendapatkan pemberitahuan mulai dari telur menetas, takaran pakan jangkrik usia muda, usia tua hingga panen. Jadi para peternak tidak harus setiap waktu mengawasi ternak. Cukup dengan satu kali di saat proses penjadwalan, setelah itu peternak akan mendapatkan pemberitahuan melaui Mobile yang terinstal Android. Dengan cara ini para peternak akan lebih mudah dan cepat merawat jangkrik, sehingga hasil panen bisa maksimal dan memenuhi target.

        Sejauh ini aplikasinya masih dalam proses penyempurnaan. Jadi masih belum bisa digunakan oleh khalayak ramai. Saat ini aplikasi tersebut masih digunakan sebatas untuk kelompok ternak saya. Namun dalam waktu dekat aplikasi ini akan segera disempurnakan kemudian disediakan di Play store. Aplikasi ini juga saya digunakan sebagai tugas akhir kuliah.

Pernakah aplikasi ini dilombakan?

         Iya, aplikasi ini saya lombakan dalam Kompetisi Anugrah IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) DIY. Alhamdulillah, aplikasi ini meraih juara 1 dalam kategori Masyarakat Umum Individu. Berkat prestasi tersebut saya diundang ke Jakarta dalam acara memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-20. Disana saya bertemu dengan Pak Habibie.

       Setiap peserta yang hadir dalam acara tersebut merupakan perwakilan dari masing-masing provinsi, dan saya mewakili Yogyakarta. Dalam acara tersebut saya dinobatkan sebagai Duta IPTEK untuk Provinsi DI. Yogyakarta.

Bagaimana harapan kedepan untuk aplikasi ini?

     Harapan untuk aplikasi, saat ini aplikasinya dalam tahap penyempurnaan. Semoga dalam waktu dekat selesai dan bisa diunduh di Play Store agar peternak jangkrik seluruh Indonesia bisa menggunakannya.

      Saya berharap kedepanya semakin banyak orang yang tertarik menggeluti ternak ini. Karena saat ini jumlah peternak terutama di Yogyakarta masih minim. Saya juga siap menerima calon peternak yang mau bergabung karena saya masih belum bisa memenuhi kebutuhan pasar per hari. [Bintang]

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *