Ingatkan Solidaritas dan Hari Tani Melalui Pergelaran Diskusi

Selasa, 4 September 2018, Partai Pergerakan Mahasiswa (PPM) dan solidaritas Kulon Progo mengadakan kegiatan solidaritas yang bertajuk “Panggung Seni Untuk Keadilan. #Solidaritas Untuk Temon”. Kegiatan yang diadakan di Parkiran Baru Kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini merupakan rangkaian acara untuk menyambut Hari Tani 24 September mendatang. Selain itu kegiatan tersebut juga diadakan supaya orang-orang kembali mengingat pekerja pertanian serta menggalang solidaritas untuk kembali memikirkan bandara Kulon Progo.

Hal tersebut disampaikan oleh Wisnu Utomo selaku perwakilan kawan-kawan solidaritas. Ia menyatakan, “(Acara ini-red) untuk menuju hari tani, supaya orang-orang kembali mengingat pekerja pertanian dan untuk menggalang solidaritas supaya orang-orang  mau kembali memikirnya lagi bandara Kulon Progo. Tolak bandara,” tegas Wisnu.

Wisnu juga mengatakan bahwa kegiatan serupa akan kembali diadakan di  kampus yang berbeda-beda. “Inikan awal diskusi kesenian, nanti di UIN ada diskusi juga, yang di UNY itu diskusi tentang bagaimana media memframing kasus penggusuran, khususnya di Temon, jadi sudut pandang media itu kayak apa gitu, kemudia di UGM. Selain kampus ada juga acara di mana itu pokonya serikat perempuan,” tambah Wisnu.

Selain hari tani dan tolak bandara untuk warga Kulon Progo, hal yang paling disoroti dalam acara tersebut adalah kepekaan mahasiswa terhadap sosial. Arfan Efendi, Ketua PMM menilai bahwa mahasiswa sekarang kepekaan terhadap realita sosial sangat tipis dan minim, padahal kondisi rakyat sekarang kebanyakan dirampas. Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa lah yang seharusnya ikut andil.

Senada dengan Arfan, Wahyu Kurniawan Siregar selaku ketua panitia menyatakan acara ini dilakukan untuk menyadarkan kepekaan mahasiswa terhadap sosialnya. Untuk itu ia berharap kedepannya mahasiswa atau pun kaum muda bisa lebih peka terhadap keadaan sosial. “Ya harapan kedepan kaum-kaum mahasiswa ataupun kaum muda itu lebih peka terhadap keadaan sosial dan lebih berdemokrasi,” ungkap Wahyu.

Lebih lanjut menurutnya penggusuran yang terjadi di Kulon Progo adalah bencana kemanusia. “Kulon Progo itu menurutku bencana kemanusiaan, yang menurutku itu gak pas karena pemerintah lebih mementingkan infrastruktur daripada  kemanusiaan,” tambahnya.

Acara yang berlangsung dari pukul 15:00 WIB hingga pukul 22:30 WIB diakhiri dengan musikalisasi dan pernyataan sikap mahasiswa terkait bandara Kulon Progo. Acara ini diikuti mahasiswa yang tidak hanya berasal dari  UAD melainkan mahasiswa luar pun sangat antusias mengikuti dan memeriahkan acara tersebut. “Alhamdulillah banyak yang dari luar UAD juga, mahasiswa baru pun juga ada,” ungkap Wahyu ketua panitia.

Penulis : Us’an

Editor : Nur

Please follow and like us:

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *