Merangkai Sejarah Melalui Sosok Gie

      Majalah Tempo edisi khusus 10 sampai 16 Oktober membahas Soe Hok Gie dengan judul Gie dan Surat-Surat Yang Tersembunyi. Tempo melalui edisi tersebut ingin merangkai sejarah melalui sosok Gie namun dari cerita-cerita sederhana yang tidak pernah terpublikasikan media lain. Hal ini diutarakan Widiarsi Agustina, Kepala Biro (Kabiro) Tempo Jogja dalam diskusi “Bedah Majalah Tempo” yang diadakan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) (17/10).

        Menurutnya kontribusi Soe Hok Gie bagi Indonesia sangat luar biasa. “Tulisan, catatan-catatan pinggir Hok Gie membantu kita merekonstruksi bagaimana jaringan 66 itu dibentuk, bagaimana model hubungan dimasa itu terbentuk,” ujarnya.

       Widiarsi mengatakan, lewat surat-surat Gie kita dapat melihat pergerakan pada tahun 66  dari sisi yang lain. “Melihat peristiwa 66, peristiwa 30 (September-red) dari versi yang lain, dari versi anak muda. Sekaligus kita juga melihat Hok Gie dari versi yang lain,” ujarnya. Menurut Widiarsi, selain menjadi pribadi yang gelisah dan jujur, Gie adalah seseorang yang rajin menulis.

        Gie membangun kepingan-kepingan sejarah dari hal-hal yang sederhana, seperti dalam catatannya ia menyindir Soekarno di masa itu. “Ada pengemis yang makan kulit mangga, saya membayangkan dia hanya menulis itu dan hanya beberapa meter itu penguasa berfoya-foya,” ujar Widiarsi mengutip salah satu kritikan Seo Hok Gie dalam suratnya.

         Widiarsi menjelaskan, catatan-catatan pendek milik Gie yang menurut banyak orang tidak penting ternyata bisa mengubah dunia. “Sama dengan kita melihat Kartini setelah membaca surat-suartnya,” ujar Widiarsi.

         Perspektif inilah yang digunakan Tempo dalam membuat majalah edisi Gie ini. “Kita itu selalu sibuk dengan tokoh-tokoh besar. Dan melupakan orang-orang yang dianggap biasa aja tapi sebenarnya dia meninggalkan jejak yang luar biasa dalam sejarah,” ungkap Widiarsi.

        Tempo dalam liputannya bertemu dengan orang-orang di sekitar Gie saat ia masih hidup. Salah satunya Yosep Adi Prasetyo dan Arief Budiman (kakak Gie) yang kini menyimpan catatan-catatan milik Gie. Beberapa surat dan catatan yang ditulis Gie semasa ia hidup dimuat oleh Tempo.

     Widiarsi mengungkapkan salah satu misi Tempo dalam majalah tersebut adalah memberitahu ke publik bahwa ada sosok yang layak dibaca sebagai bagian dari merawat Indonesia dan sejarah. “Perannya (Soe Hok Gie-red) sederhana, lewat surat, lewat catatan harian,” ujar Widiarsi. [Nur]

 

Please follow and like us:

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *