Pengurus Kampung Wisata Pertanyakan Peran Perguruan Tinggi

“Apa peran mahasiswa dan Perguruan Tinggi (PT) dalam bidang pariwisata?” tanya Budiharto pengurus Kampung Wisata Purbayan, Kotagede. Hal ini dipertanyakan karena kurangnya peran mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan pariwisata di Kampung Wisata.

Padahal secara geografis, keberadaan kampung wisata seperti Purbayan tak jauh dari kampus-kampus besar di Yogyakarta. “Lah, saya sudah biasa lewat UAD, UGM dan universitas lainnya. Tapi ya mana, perannya ke kelurahan di kota ini? Semuanya pergi ke jauh kalo Kuliah Kerja Nyata (KKN). Padahal yang dekat juga sangat membutuhkan,” jelasnya ketika memaparkan pertanyaan.

Menanggapi hal tersebut, Sunardi pengrajin Desa Panjangrejo yang ditemui saat Diskusi Publik dan Launching Majalah Poros edisi IX (19/3) berharap, mahasiswa yang sedang mengabdi di desa bisa menjadi jembatan antara pihak pengurus desa wisata dan pemerintah desa setempat.

Hal ini diutarakan, tak lain karena ia gelisah terhadap desa wisata di daerahnya yang pasif dari kegiatan wisata.

Senada dengan Sunardi, Krisgyantoro Ketua Desa Wisata Candran, Imogiri menyatakan mahasiswa dan PT dapat ikut mengkaji terkait pemetaan potensi, manajemen dan promosi. “Itu yang perlu dibantu oleh teman-teman PT. Beberapa PT sudah berperan, tapi belum maksimal. Tinggal Bagaimana PT berada di desa dan membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi,” terangnya.

Selain itu, Krisgiyantoro yang dulu pernah menjadi Ketua Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY ini berharap PT dapat membantu pengembangan bagian kelembagaan dan membangung jaringan.

Ditemui usai acara yang berlangsung di Auditorium Kampus UAD II ini, Destha Titi Raharjana staf ahli dari Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM menyatakan bahwa PT punya salah satu kewajiban untuk melakukan riset dan juga pengabdian.

Dalam hal ini, riset tidak hanya menjadi kebutuhan akademik, tapi riset yang hasilnya bisa dimanfaatkan. Ia berpandangan, bahwa desa dan kampung wisata adalah laboratorium sosial yang luar biasa. “Teman-teman dari berbagai disiplin ilmu bisa menerjemahkan,” pungkasnya.

Ia berpendapat bahwa KKN hanyalah salah satu instrumen, masih banyak cara yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. “Penting lagi adalah pemberdayaan, seperti transfer kemampuan dan pengetahuan dari PT ke masyarakat,” terangnya.

Ia menambahkan, tidak masalah ketika PT tidak ada program studi atau lembaga khusus yang bergerak di bidang pariwisata. “Saya kira tidak jadi masalah, karena pariwisata sangat cair. Bisa disentuh dari berbagai disiplin ilmu, monggo pariwisata sangat terbuka,” jelasnya.

Acara Launching Majalah dan Diskusi Publik bertema “Menilik Desa Wisata”.  Dalam acara ini hadir pula Dinas Pariwisata DIY, Ketua Pokdarwis se-DIY dan Pimpinan Redaksi Pers Mahasiswa Poros sebagai pembicara. Serta  29 pengurus desa dan kampung wisata di DIY, Lembaga Pers Mahasiswa Yogyakarta dan organisasi mahasiswa di UAD. [Nurul]

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *