Perlukah UAD Membangun Gedung Pertunjukan?

Acara kesenian mahasiswa UAD (Universitas Ahmad Dahlan) semakin marak dilaksanakan. Hal ini memicu rumor di internal bahwa kampus oranye ini telah menjadi salah satu kampus swasta yang aktif dalam melestarikan kebudayaan. Bertambahnya komunitas seni seperti Komunitas Musik, Teater, Tari, Gendhing Bahana dan lain-lain menjadi indikator akan keseriusan UAD dalam mewujudakan semangat kebudayaan di kampus.

Namun, ada pertanyaan yang tergiang dalam benak pikiran saya, adakah niat dari pihak universitas untuk membangun sebuah gedung pertunjukan yang pantas untuk menampung kreatifitas mahasiswa?

Jika kita melihat keadaan di lapangan saat ini, pihak kampus sepertinya hanya sibuk memikirkan pembangunan gedung kuliah bagi mahasiswa. Hal ini menjadi yang paling utama. Tentu saja jika sudah berorientasi pembangunan akan diiringi naiknya  uang pembayaran setiap tahun bagi mahasiswa-mahasiswi baru.

Hal lain yang membuat miris adalah  ketika berita Poros beberapa waktu lalu menyampaikan informasi yang mengulas tentang kegiatan mahasiswa di UAD dinilai 0.0 oleh DIKTI. Maka ini bisa ditafsirkan bahwa kegiatan di UAD selama ini ternyata tidak nampak di mata DIKTI. Ini karena beberapa faktor. Selain karena kampus yang selalu sepi di malam hari karena jam malam terbatas, gedung pertunjukan juga kurang khususnya untuk menampung kreativitas mahasiswa se-UAD.

Perlu  diingat pula bahwa kuantitas mahasiswa di UAD haruslah seimbang dengan kualitas yang didapat di kampus. Untuk menyeimbangkan itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melestarikan kesenian dan kebudayaan negeri yang beragam ini.

Jika hal ini masih belum dipikirkan, maka akan banyak hal buruk yang terjadi. Mahasiswa akan kehilangan semangat untuk aktif di UKM maupun komunitas seni di kampus. Mereka akan memilih berkegiatan di luar kampus sehingga ada anggapan bahwa uang yang dibayarkan ke kampus tidak seimbang dengan apa yang mereka dapatkan.

Lantas bagaimana bisa mereka mengakui bahwa kampus berperan terhadap kualitas mahasiswanya, jika mereka sendiri nyatanya lebih sering latihan dan pentas di luar kampus. Hal ini terjadi karena mahasiswa merasa bahwa kampus sendiri tidak menyediakan gedung yang cocok untuk mahasiswa latihan dan pentas.

Kampus juga selalu mempersoalkan jam malam. Birokrasi dengan gagah dan suara lantang membatasi kegiatan para pegiat seni teater. Saat  latihan misalnnya, hanya diperbolehkan sampai pukul 21.00 malam. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk teater lebih dari itu.  Alasan yang selalu diutarakan adalah suara mahasiswa mengganggu warga. Padahal  kenyataannya tidak begitu. Karena setelah diuji ternyata suara riuh mahasiswa sebenarnya tidaklah terdengar ribut di telinga warga, apalagi itu dilakukan di lantai dua atau tiga.

Semestinya apabila pihak universitas masih ingin meningkatkan kualitas maupun integritas mahasiswa melalui kegiatan ekstra kurikuler kampus, sudah seharusnyalah untuk memikirkan tentang waktu dan ruang latihan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Pihak kampus nampaknya perlu melakukan survei langsung kepada mahasiswa. Apakah perlu adanya pembatasan jam serta ruang kegiatan untuk mahasiswa, karena pada dasarnya mereka yang  aktif di organisasi ikut membawa nama baik universitas ketika melakukan pementasan diluar kampusnya. Kalau perlu buatkanlah gedung pertunjukan agar mahasiswa lebih leuasa dalam beraktivitas dan berkarya. [Ilham Gabriall]

*Mahasiswa Sastra Inggris dan pegiat di Komunitas Teater 42 UAD

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *