Resensi Masta yang Menyesatkan

      Tulisan ini untuk menjawab resensi dari Raifa di kolom Literasi, Buletin Masta UAD 2016. Ia meresensi buku Kelahiran Yang Dipersoalkan oleh Farid Fathoni A.F. (1990). Ia memulai paragraf awal dengan lihai gemulai namun menyesatkan.

     Seperti ini paragraf awalnya: “Farid Fathoni memaparkan gagasannya mengenai kelahiran IMM yang menimbulkan banyak pertanyaan massa. IMM hanya lahir tanpa sejarah, IMM merupakan formalitas dari sistem pemerintahan yang membutuhkan massa, IMM lahir hanya karena HMI telah dibubarkan. Persepsi-persepsi demikian membangkitkan Farid untuk memaparkan kebenaran bahwa sesungguhnya IMM memiliki latar belakang kelahiran yang jelas, sebab IMM adalah anak kandung dari Muhammadiyah yang secara otomatis lahirnya IMM merupakan penerus dari tujuan Muhammadiyah yang belum tercapai.”

      Apa yang menyesatkan dari paragraf awal itu? Adalah kalimat “IMM lahir hanya karena HMI telah dibubarkan.” Kalimat tersebut mengagetkan para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ahmad Dahlan. Bahkan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta sempat mengunggah foto tulisan itu di media sosial dan mempertanyakan mengapa ada tulisan seperti demikian.

     Apabila HMI telah dibubarkan maka jejak HMI dari 14 Maret 1964 (tahun kelahiran IMM) hingga sekarang telah tiada. Namun HMI tetap eksis sampai berumur tua, 69 tahun pada 5 Februari 2016.

     Kalimat tepat untuk memperbaiki kekeliruan atau mungkin kesengajaan Raifa adalah “IMM lahir hanya karena HMI akan dibubarkan.” Sekali lagi, AKAN dibubarkan. Kalimat itulah yang dipersoalkan oleh Farid Fathoni A.F.

     Buku Kelahiran Yang Dipersoalkan juga diulas di muhammadiyahstudies.blogspot.com. Saya mengutip kalimat dari blog tersebut yang mendekati mirip dengan tulisan Raifa namun berbeda makna.

     “Anggapan dan klaim yang mengatakan bahwa IMM lahir karena HMI akan dibubarkan, menurut Noor Chozim Agham adalah keliru dan kurang cerdas dalam memberi interpretasi terhadap fakta dan data sejarah. Justru sebaliknya, salah satu faktor historis kelahiran IMM adalah untuk membantu eksistensi HMI dan turut mempertahankannya dari rongrongan PKI yang menginginkannya untuk dibubarkan.”

     Nah, saat itu IMM dan HMI saling membahu untuk menjaga martabat bangsa Indonesia. Bagaimana IMM dan HMI dalam konteks kekinian?

     Bukan hanya pada paragraf awal terdapat kekeliruan dalam resensi itu, namun paragraf ketiga juga memiliki kesalahan data sejarah. Disitu Raifa menyebut KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) adalah faktor mengapa IMM lahir karena berbeda ideologi.

       Pada 1964, KAMMI belum lahir bahkan terpikir pun belum. Organisasi yang dekat dengan PKS ini terbentuk pada 29 Maret 1998 di Malang. Resensor sebaiknya membaca ulang sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia agar tidak gagal paham. Tahun 1960-an, yang ada adalah organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Salah satu organisasi yang menurunkan presiden Soekarno dari kursi presidennya.

     Kita ketahui bersama bahwa setiap tahun ajaran baru adalah ajang perekrutan anggota baru, baik organisasi intra maupun ekstra kampus. Sehingga tidak menutup kemungkinan, pengurus organisasi akan melakukan segala cara untuk merekrut mahasiswa baru agar ikut organisasinya. Namun sebaiknya upaya ini tidak dengan tindakan menjelekkan nama organisasi lain.

       Dalam konteks tulisan Raifa ini, apakah kesalahan dari resensor atau pihak editor, atau “mungkin” ada unsur kesengajaan untuk mencederai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini?

       Pesan saya untuk kita semua bahwa berhati-hatilah dalam menulis, sebab tulisan lebih tajam daripada pedang. Itu saja. Hanya itu. [Moh. Syaripudin]

Moh. Syaripudin adalah mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Budaya dan Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Resensi Masta yang Menyesatkan

  1. Mungkin baiknya kita menemui penulis dan mengklarifikasi atas tulisan tersebut.
    Supaya tidak terjadi tuduhan-tuduhan yang takutnya nanti juga beresiko untuk masing-masing kader.

  2. Assalamualaikum…
    Mohon maaf sebelumnya mas, hanya ingin mengingatkan untuk tetap berpedoman pada etika penulisan yang berlandaskan fakta, bersikap independen untuk menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk,
    Menempuh cara-cara yang profesional,
    Menguji informasi, memberitakan secara berimbang, seta tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *