Adakan Aksi Hingga Menginap di Kampus, KBM UAD Gugat 10 Tuntutan

Kamis, 14 Maret 2019, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan aksi menggugat demokrasi kampus. Aksi tersebut membawa sepuluh tuntutan yang harus dipenuhi oleh pihak rektorat UAD.

Kesepuluh tuntutan tersebut yakni, pertama, batasi kuota penerimaan mahasiswa 2019. Kedua, tolak kuliah malam. Ketiga, percepat pembangunan perpustakaan Kampus IV. Keempat, perbaiki fasilitas di seluruh kampus. Kelima, perjelas status Kampus VI dan berikan fasilitas yang layak. Keenam,  berikan hak dan informasi yang jelas terkait dispensasi. Ketujuh, libatkan KBM UAD dalam pengambilan kebijakan kampus. Kedelapan, berikan ruang demokrasi kampus. Kesembilan, hapus pungutan liar. Kesepuluh, berikan transparasi dana kampus.

Aksi dimulai pada sekitar 9.00 WIB di halaman Kampus IV UAD. Aksi ini kemudian berlanjut menuju Kampus V, Kampus III, dan berakhir di Kampus I. Mahasiswa yang tergabung di dalam aksi menyampaikan tuntutannya melalui orasi dan spanduk-spanduk yang dibentangkan oleh peserta aksi.

Pratama Wasisto Aji selaku Koordinator Umum (Kordum) aksi mengatakan aksi ini adalah bentuk kegelisahan KBM UAD tentang beberapa permasalahan yang ada di kampus. “Walaupun UAD sedang dalam proses pembangunan dengan gedung yang mewah dan propaganda di media yang cukup masif, tetapi kita sampaikan bahwasanya permasalahan yang ada di UAD itu masih banyak,” tegas Pratama ketika ditemui wartawan Poros (14/03).

Gubernur Fakultas Hukum, Muhammad Rifki yang juga ikut dalam aksi tersebut berharap tuntutan-tuntutan yang disampaikan bisa dipenuhi. “Dari sepuluh isu yang kita gaungkan itu minimal setengahnya dicabut atau diubah dari rektorat,” harapnya.

Dedi Pramono selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) yang kemarin hadir menemui mahasiswa peserta aksi menyampaikan bahwa dirinya bersedia untuk melakukan audiensi. Namun, KBM UAD menginginkan audiensi juga harus dihadiri pihak rektorat.

“Kami (KBM UAD- red) tidak ingin beraudiensi hanya pada pihak-pihak kemahasiswaan, tapi pihak rektorat yang langsung turun karena pimpinan dari universitas yang bisa mendengarkan suara mahasiswa,” ungkap Pratama.

Sayangnya, Kasiyarno selaku Rektor UAD sedang berada di Makassar. Hingga berita ini diturunkan, massa aksi masih bertahan di Kampus I sampai pihak rektorat bisa ditemui. “Kita harus buktikan kita benar-benar berjuang. Karena ketika kita balik (membubarkan massa-red), ada juga beberapa pertimbangan dari kawan-kawan,” ujar Tri, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

 Penulis : Arista (Magang)

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *