459 views

Aksi Penolakan Syuting Film “17 Selamanya”, Kaprodi Ilkom: Dirugikan Secara tidak Langsung, Benar

Muhammad Najih Farihanto selaku Kepala Program Studi (Kaprodi)  Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menanggapi adanya komentar di akun Instagram @porosuad dan @uadbergerak yang menyebutkan bahwa aksi penolakan (25/3) syuting film 17 Selamanya merugikan Ilkom.

“Dirugikan secara tidak langsung, benar. Karena memang beberapa orang yang terlibat dalam pembuatan film tersebut adalah relasi kami, bahkan pernah menjadi mentor dalam kegiatan produksi shooting yang dilakukan oleh mahasiswa,” tulis Najih ketika dihubungi reporter Poros melalui WhatsApp (27/3).

Narasi yang dibawa oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi itu menanggapi terkait  aksi  yang dilakukan oleh Keluarga Besar Mahasiswa UAD pada Kamis lalu. Adapun beberapa narasi itu, di antaranya aksi tersebut merusak relasi Prodi Ilmu Komunikasi dengan industri perfilman, penjurusan broadcasting seolah-olah dilarang syuting, dan demonstrasi tidak menghargai karya, khususnya film.

“Kami harus melihatnya secara holistik dinamika ini,” tulis Najih melalui WhatsApp (27/3).

Meski demikian, Najih menganggap lumrah ketika muncul penolakan adanya proses syuting film di perpustakaan UAD.  Pasalnya, selama pandemi mahasiswa dibatasi dalam berkegiatan di kampus dan harus menaati protokol kesehatan yang ditentukan oleh Satgas Covid-19 UAD. Namun, ketika ada pihak luar yang ingin menggunakan fasilitas kampus dengan durasi yang cukup lama justru diperkenankan. Selain itu, berdasarkan foto yang beredar di akun media sosial salah satu pemain wanita tidak berbusana Isami. Padahal, UAD adalah kampus Muhammadiyah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

“Hemat kami hal tersebut (syuting film 17 Selamanya-red) kurang pas kalau itu dilakukan di UAD,’’ tulis Najih berpendapat.

Terakhir, Najih berharap dengan adanya polemik yang telah terjadi ini,  pihak industri film tidak hanya melihat mahasiswa dan alumni Ilmu Komunikasi UAD dari almamaternya. Akan tapi, juga kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa dan alumni yang telah didapatkan selama perkuliahan.

“Lebih jauh lagi, karena informasi ini sudah tersebar di jaringan film maker nasional, ke depannya bisa jadi para alumni kami yang akan masuk ke dunia industri film akan terganggu,” tulis Najih.

Meski begitu, Najih merasa yakin bahwa mahasiswanya memiliki kemampuan yang bisa diterima di industri khususnya industri perfilman.

Penulis: Febi Anggara

Penyunting : Yosi Sulastri

Persma Poros

Persma Poros

Menyibak Realita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.