Catatan Kecil Membaca Indonesia

Judul                     : Demokrasi dan Moral Politik

Pengarang           : Ahmad Sahide

Penerbit               : The Phinisi Pers Yogyakarta

Tahun Terbit       : September, 2018 cetakan I

Halaman              : 156 halaman

Harga Buku         : Rp. 55.000,-

Euforia perpolitikan di Indonesia kini sudah merasuki pembahasan di meja makan keluarga, mungkin. Artinya tingkat peduli masyarakat terhadap politik kian meningkat. Bagaimana tidak, apa yang kita baca, lihat, dan dengar di media,  berlomba-lomba menyajikan informasi yang tidak lepas dari unsur politik. Buku Demokrasi dan Moral Politik ini menjadi wajah baru untuk melihat bagaimana dinamika perpolitikan di Indonesia. Menariknya kita akan disuguhkan pembahasan yang rumit ini, demokrasi dan moral politik Indonesia, melalui catatan esai Ahmad Sahide yang sebenarnya bentuk respon Sahide pada dinamika politik saat lampau, terkhusus tahun 2012-2013.

Sebelum jauh membahas isi dalam buku ini, alangkah baiknya kita mengenal dulu sosok penulisnya.Ia yang biasa di sapa bang Ahmad, berasal dari Bulukumba Sulawesi Selatan yang kini menjadi dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Selain itu, Ahmad merupakan sosok akademisi yang cukup produktif dalam menulis. Bagaimana tidak, tulisan-tulisannya beberapa kali muncul di koran dan majalah lokal maupun nasional. Tulisan Ahmad juga beberapa kali muncul dalam wujud  jurnal dan buku. Buku yang ia tulis pun beragam, mulai dari kumpulan esai, cerpen, hingga novel. Karena kegemarannya didunia literasi, ia juga menjadi penggiat dari Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Nah, berpijak pada asas demokrasi yang sering dikumandangkan para elite politik, Ahmad melihat secara jeli setiap permasalahan politik. Hingga akhirnya memunculkan pertanyaan mendasar yang tersirat di setiap tulisannya, seperti apa yang berubah, ke arah mana perubahan tersebut harus berjalan, dan lebih penting lagi ialah bagaimana mengubahnya.  Kumpulan esainya ini tidak hanya sekedar melegakan dahaga pembaca terkait politik, namun pembaca akan diajak melihat permasalahan politik secara detail, seperti siapa pelaku politik, dan bagaimana respon publik.

 Buku setebal 156 halaman ini menangkap tradisi-tradisi intelektual yang telah membentuk argumentasi politik di tahun 2012-2013. Tidak hanya membahas tentang persoalan politik di negeri ini dari sudut pandang yang berbeda-beda, namun penulis juga akan membawa pembaca untuk bertamasya melihat demokrasi di Rusia dan Amerika. Ya, dengan melihat demokrasi dan politik di negara lain, sayarasa buku ini bisa menjadi peta bagi kita, untuk menemukan salah satu cara melihat permasalahan kebangsaan yang sedangberjalan.

 Esai demi esai yang disuguhkan dalam buku ini merupakan bukti bahwa politik memiliki andil yang besar dalam setiap perubahan.“Di mana perubahan itu secara umum, memudarkan jati diri bangsa dan negara kita, kita pun akan menjadi bangsa yang kehilangan identitas dan jati diri,”(Sahide, 2010:107-110). Sebagai penulis Ahmad beberapa kali mencoba mengajak pembaca berdiskusi melalui buku ini, bukan merekonstruksi pembaca memaknai perubahan atau politik yang dibahasnya.

Pada awal buku ini, pembaca akan disuguhkan tulisan mengenai konsep budaya Siri’na Pesse yang menjadi identitas orang Bugis dan Sulawesi Selatan. Makna Siri’na Pesse menurut buku ini, Siri’ berarti harkat dan martabat, dan Pesse dapat di maknai sebagai perasaan aib, lahir akibat dilanggarnya Siri’.  Melalui tulisan inilah saya rasa penulis ingin mengenalkan, bahwa demokrasi dan politik Indonesia juga diwarnai dengan Siri’na Pesse. Hal ini tentu selain pembelajaran bagi pembaca tentang makna budaya Siri’na Pesse, ternyata konsep/budaya tersebut penah dipraktikkan oleh Wakil Presiden 2004-2009 tanpa kita sadari.

Ada esai menarik apalagi di buku ini?

Karena saya Alhamdulillah masih mahasiswa sehingga ada dua esai yang mengusik kenyamanan saya menyandang status mahasiswa. Esai tersebut yaitu“BBM, Demonstrasi dan Banalitas Politik” dan “Gerakan Mahasiswa dalam Membangun Kultur Politik Berkarakter”. Melalui esai-esai tersebut saya mengetahui bahwa pergerakan mahasiswa ternyata sering bersentuhan dengan kekuasaan. Maka dari itu perpolitikan Indonesia juga dipengaruhi oleh mahasiswa, misalnya sejak tahun 1908 pada saat berdirinya Boedi Oetomo yang digerakan mahasiswa. Boedi Oetomo merupakan salah satu organisasi yang dibentuk oleh mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA)  atau yang dikenal dengan sekolah kedokteran pribumi. Organisasi tersebut memilih tujuan untuk kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa Indonesia. Hal tersebut merupakan bukti bahwa saat ini seharusnya mahasiswa tidak menutup mata dengan apa yang terjadi, dan ikut andil dalam perubahan negeri ini.

Lebih banyak lagi lembar demi lembar yang kita baca, kita akan mengantongi beberapa nama tokoh politik Indonesia bahkan negara lain. Melalui tokoh-tokoh politik inilah penulis cukup lihat memberikan gambaran bagaimana dinamika politik saat itu. Meskipun pengenalan tokoh tersebut dikemas berdasarkan peristiwa yang sedang hangat dibicarakan media.

 Berbicara mengenai demokrasi dan politik negara lain selain Indonesia, buku ini juga memberikan porsi meskipun sangat minim terkaithal tersebut. Siapa yang tak tahu tentang Rusia dan Amerika? Buku ini menyajikan dua esai khusus yang membahas dua negara itu. Tentu saja pembahasnnya melalui tokoh penting di kedua negara tersebut yaitu Vladimir Putin dan Barack Obama. Di sinilah saya rasa dua tulisan esai tersebut bisa dijadikan perbandingan, bagaimana dinamika demokrasi pada saat pemilihan presiden di dua negara tersebut dan di Indonesia.

Esai lainnya yang juga menarik adalah “Kegaduhan Renovasi Ruang Bangar”, membahas kegaduhan politik yang lahir dari permasalahan pembangunan. Adajuga  “Apel Malang dan Washington dalam Bahasa Politik Indonesia” yang menyoroti peran perkembangan teknologi dalam politik. Kedua esai ini cukup unikdalam memberikan pandangan tentang wajah demokrasi dan politik Indonesia yang ternyata dipengaruhi banyak hal. Dan jika kita lihat dari esai-esai pada buku ini, wajah-wajah politik Indonesia memang cukup bervariasi.

Akan tetapi terlepas dari rasa terima kasih saya sebagai pembaca pada Sahide yang telah merangkumkan potret politik di tahun silam, ada beberapa catatan  dari saya yang mungkin bisa menjadi masukan untuk buku ini dan buku selanjutnya. Klasifikasi penyusunan esai yang berdasarkan waktu membuat pembahasan yang sebenarnya masih berkaitan terkesan kurang sistematis. Penulis kerap merespon tulisan dari Kompas sebagai landasan tulisan dalam buku ini yang menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi saya, apakah hanya Kompas media saat itu yang faktual untuk melihat politik negeri ini. Selain itu saya rasa konsistensi gaya penulisan perlu untuk membentuk identitas penulis. Jika dilihat dari buku ini, terutama pada esai-esai pada tahun 2013, penulis mulai mengurangi porsi bercerita melalui tokoh-tokoh politik. 

Seusai membaca buku ini saya rasa akan muncul satu pertanyaan dari kalian yang belum membaca buku ini, yaitu bagaimana melihat Indonesia dalam perkembangan demokrasi dan moral politiknya dari tahun ketahun? Kalau begitu saya rasa buku ini akan cocok untuk di konsumsi nalar kita, sebab sudut pandang yang ada dalam buku ini mampu menjadi referensi, bagaimana melihat dinamika demokrasi dan politik yang sedang berjalan saai ini.

Penulis : Khafidz

Editor : Nur

Please follow and like us:

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *