Membuang Tulisan Haryono Kapitang ke Tong Sampah

Ketika membaca artikel berjudul Kritik Terhadap Narasi Robohnya Demokrasi Kita, saya berpikir, tulisan itu akan menggemparkan dan menggelitik mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sebab, latar belakang dan gelar penulis begitu berat dan menyeramkan. Penulis (gadungan) itu bernama Haryono Kapitang, mahasiswa PAI UAD, penulis buku Teologi Kemenangan, kontributor Rahma. Id, Ibtimes.id, dan media lainnya.

Baca selengkapnya

Yang Harus Dibabat, yang Harus Disokong

saya kaget melihat tulisan sejelek itu kok bisa-bisanya ditayangkan. Tentu, saya menduga di internal redaksi Poros pasti ada dilematis ketika mendapati tulisan jelek Yono bersarang ke surat elektroniknya. Sebab, jika tulisan itu tidak dimuat, bakal membentuk opini publik bahwa Pers Mahasiswa Poros antikritik. Terlebih lagi yang dibantah adalah tulisan dedengkot atau Pemimpin Redaksi Poros, Adil Al Hasan. Di sisi lain, jika tetap dimuat, apa kata sidang pembaca terhadap tulisan yang kerempeng data, jelek, dan berbau disclaimer itu. Payah!

Baca selengkapnya

Badut Teriak Badut: Kritik Terhadap Tulisan Robohnya Demokrasi Kita

Pertama, saya sangat setuju pada pemaparan apik Adil Al Hasan mengenai kondisi terkini Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi di Indonesia yang semakin hari semakin memburuk. Saya rasa, tidak ada satu pun dari kita yang bisa membantah terkait data-data maupun kutipan-kutipan elegan dari berbagai sumber yang dibawakan penulis. Sungguh, hal ini membuktikan bahwa penulis bukanlah mahasiswa yang hari-harinya cuma dihabiskan untuk duduk manis di bangku mendengarkan dosen bercerita semaunya. Ini menunjukkan bahwa penulis betul-betul mempunyai keahlian untuk berbicara perihal tema ini, terlebih beliau adalah seorang yang aktif di media beken mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Poros maksudnya.

Baca selengkapnya

Robohnya Demokrasi Kita

Di kampus yang memiliki masjid besar bin megah tapi salah kiblat itu—Universtias Ahmad Dahlan, maksudnya—mengalami kemunduran demokrasi yang, astaga, memprihatinkan. Padahal, seharusnya kampus dapat menjadi ruang bagi siapa pun untuk berekspresi. Sejak zaman baheula, kampus yang katanya favorit ini selalu mendiskriminasi aneka organisasi mahasiswa, seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia, dan lain sebagainya. Setiap masa penerimaan anggota baru dari setiap organisasi yang tidak diakui di UAD itu, mereka tidak boleh melakukan proses perekrutan di dalam wilayah kampus, bahkan pernah mereka diusir dari tanah airnya kampusnya sendiri.

Baca selengkapnya

Penjajah Itu Bernama Pemerintah dan Oligarki

Apa yang membuat Anda begitu kejam kepada rakyat Papua? Apa yang melatarbelakangi Anda terus mengusik kehidupan rakyat Papua? Sejarah kehidupan semacam apa yang kalian miliki, sehingga kalian begitu kejamnya kepada rakyat? Bahkan, Sengkuni pun bukan tandingan kalian. Bisa mendapatkan gaji begitu besar, kemewahan, popularitas, jabatan, dan hal lainnya dengan mudah, apakah itu kurang? Mengapa kalian melebihi batas kewajaran sebagai manusia?

Baca selengkapnya

Belajar di Masa Pandemi? Jangan Lupakan Tri Pusat Pendidikan

Masih berada dalam masa pandemi Covid-19, seluruh perhatian umat di seluruh dunia saat ini mengarah pada berbagai persoalan yang ditimbulkan dari situasi tersebut. Dalam hal ini, bidang pendidikan tentu saja tidak luput dari dampaknya, bukan hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga dalam persoalan mayarakat dunia. Di mana, pada masa ini kita dihadapkan dengan situasi yang jauh dari zona nyaman seperti yang ada sebelumnya.

Baca selengkapnya

Kartini: Cinta Yang Tak Lebur Dan Hancur

Melalui kumpulan surat-suratnya, Kartini menjadi sebuah cerita yang mungkin tidak akan berhenti sampai beberapa dekade ke depan.  Semua yang berbicara tentang Kartini dan mengabadikannya dengan berbagai cara merasa mengenal dan mengetahui sosok itu karena sesungguhnya apa yang dibicarakan adalah penemuan diri mereka sendiri melalui sosok yang dilihatnya. Para politisi, ilmuwan dan aktivis, yang merentang dari spektrum yang paling konservatif dan paling radikal menjadikannya sebagai tumpuan dalam cara melihat problem kontemporer di Indonesia, termasuk ketika orang mulai meragukan sosoknya sebagai seorang pionir dalam gerakan emansipasi perempuan.

Baca selengkapnya

Kelindan, Kleptokrasi, dan Turunnya IPK Indonesia

Pada tahun 2020 lalu, kita dapat melihat secara nyata bahwa korupsi masih banyak dilakukan secara membabi buta. Padahal, pandemi masih memporak-porandakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Misalnya saja, aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo serta Menteri Sosial Juliari P. Batubara yang terjaring operasi tangkap tangan alias OTT dalam kamar suap. Selain itu, ada pula Ismunandar Bupati Kutai Timur, Saiful Ilah Bupati Sidoarjo, Wenny Bukamo Bupati Banggai Laut, dan Ajay M. Priatna Wali Kota Cimahi yang sama-sama terkena skandal kasus penyuapan. Kolase ini merupakan bukti kongkret kleptokrasi tengah menjamur.

Baca selengkapnya

 Greta Thunberg, Sang Batu Loncatan Dunia

Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg atau lebih dikenal dengan sebutan Greta Thunberg merupakan seorang aktivis lingkungan Swedia. Gadis kelahiran Stockholm, 3 Januari 2003, ini sampai sekarang gemar mengampanyekan isu-isu terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Ia juga merupakan seorang tokoh terkemuka yang memulai pemogokan sekolah pertama untuk aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para remaja mengenai perubahan iklim di luar gedung parlemen Swedia.

Baca selengkapnya