11 views

Ekstrimisme Merusak Perdamaian Bangsa

Ada yang menarik dari tulisannya Fajar Riza Ul Haq pada sebuah buku yang diterbitkan oleh Mizan Pustaka pada Tahun 2017 bertajuk “Membela Islam Membela Kemanusiaan”. Setidaknya ketika saya membaca buku itu, bagian paling menarik adalah ketika sebuah instansi pendidikan dalam buku ajar siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dimasuki paham ekstrimis.

Peristiwa itu terjadi di sebuah sekolah di Jombang, Jawa Timur. Salah satu poinnya adalah kebolehan membunuh orang lain yang menyembah Tuhan yang berbeda dengan keyakinannya. “Yang boleh dan harus disembah adalah Allah Swt, dan orang-orang yang menyembah selain Allah telah musyrik dan boleh dibunuh.” Pada bagian lain disebutkan bahwasanya sebuah kekufuran bila seorang muslim memperoleh pengetahuan selain dari sumber kitab suci (al-Qur’an, Hadis, dan Qiyas).

Lantas bagaimana respon dewan pendidikan kabupaten Jombang mengenai hal ini? Setelah ditelusuri pihaknya, ternyata yang menyusun buku ajar tersebut adalah tim penulis musyawarah mata pelajaran PAI Jombang. Mereka mengaku mengacu pada buku teks Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK/MA kelas XI yang diterbitkan kementerian pendidikan dan kebudayaan (2014) berdasarkan kurikulum 2013.

Lolosnya mata pelajaran yang mensosialisasikan intoleransi dan ekstrimisme benar-benar menjadi bahan evaluasi bagi dunia pendidikan kita, hal itu jangan sampai terulang lagi. Sebab apabila terlanjur diracuni ideologi tersebut, mereka akan cendrung membenarkan perbuatan-perbuatannya dengan alasan memperjuangkan nilai-nilai dan prinsip yang benar. Meskipun perbuatan itu merugikan, meresahkan, dan menyakiti orang lain, bahkan menghilangkan nyawa orang lain.

Kasus tersebut harus benar-benar menyadarkan para pemangku kebijakan pendidikan bahwa peran pencerahan pada institusi pendidikan telah redup. Padahal pendidikan sebagai wadah penanaman nilai-nilai toleransi kepada siswa, namun berubah menjadi agen anti pengetahuan yang melegalkan prilaku barbalik (ekstrimis-red). Paham ekstrimis ini pun semakin tampak berkembang, tidak puas melalui institusi pendidikan, mereka menggunakan media sosial (Internet) untuk menyebarkan pahamnya.

Lebih parah situs-situs di internet mayoritas dikuasai oleh kelompok yang berpaham ekstrimis. Hal ini dikatakan oleh K.H. Nasaruddin Umar imam besar masjid istiqlal seperti dikutip dari laman Liputan6.com bahwa 80 persen website Islam dikuasai kelompok radikal (ekstrimis), hanya 20 persen yang berada di bawah Islam yang dikenal moderat, itupun (yang moderat-red) paling malas melayani umat dibandingkan dengan yang 80 persen.

Ketika jamaah bertanya di web, maka yang 80 persen 10 sampai 30 menit langsung dijawab oleh mereka. Semantara yang 20 persen ketika jamaah bertanya di web, satu bulan pun tidak ada jawaban. Lebih parah, efek dari kelompok tersebut adalah mempengaruhi para pengaksesnya. Sehingga turut menilai Islam yang berbeda dengan ideologi mereka adalah salah dan sesat.

Islam adalah Agama Rahmatan Lilalamin

Ekstrimisme dan intoleransi sangatlah berbahaya bagi perkembangan bangsa, sebab ekstremisme merupakan ladang subur berkembangnya benih-benih aksi kekerasan yang sekarang bukan lagi merambah kepada orang dewasa, melainkan telah melibatkan generasi bangsa yakni anak-anak. Fenomena kekerasan ini semakin tampak garang ketika muncul berbagai peristiwa teror. Beberapa peristiwa teror dalam bentuk pengeboman telah memakan banyak korban.

Perayaan Misa pun tidak menyurutkan aksi bom bunuh diri di Jolu, Sulu, Filipina. Tepat pada Minggu (27/1/2019) pagi saat Misa pertama selesai dilaksanakan bom kedua meledak sesaat setelah tentara merespon ledakan pertama. Kejadian ini menewaskan 22 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Pihak kepolisian Indonesia dan Filipina pun berhasil mengidentifikasi dua pelaku pengeboman tersebut, mereka adalah pasangan suami istri asal Sulawesi yang diketahui bernama Rullie Rian Zake dan Ulfa Handayani Saleh.

Wujud ekstrimis ini juga dialami Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menjadi target dari serangan teror di Kabuaten Pandeglang. Ia secara tiba-tiba ditusuk setelah menghadiri sebuah acara di Universitas Matahla’ul Anwar. Polisi mengamankan dua pelaku yakni SS, dan FA. Mereka diduga terpapar radikal (ekstrimis) ISIS dan lain sebagainya.

Sehingga dapat dikatakan paham ini melahirkan ancaman bukan hanya pada dirinya dan sekitarnya, melainkan dalam jangka waktu yang perlahan akan menjadi isu teror di mana-mana yang dapat menakuti berbagai belahan dunia. Tindakan semacam ini kian menyuburkan budaya ketakutan dan menularkan kebencian kepada umat Islam.

Tidak bisa disangkal lagi bahwa paham ekstrimis ini justru membuat citra Islam tidak lagi sesuai dengan awal kemunculannya. Islam adalah agama rahmatal lil alamin secara jelas menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, berkemajuan bahkan secara langsung Islam menyatakan sebagai agama ummatan wasathan yaitu (Islam Moderat). Dengan demikian Islam sebagai ummatan wasyatan secara tegas menolak segala bentuk ekstrimis, menantang berbagai macam penyimpangan pemikiran, baik dalam sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Islam adalah agama universal dan moderat (wasatiyah) yang mengajarkan nilai-nilai toleransi (tasamuh) yang menjadi salah satu inti ajaran Islam yang sejajar dengan ajaran lain, seperti keadilan (‘adl), kasih sayang (rahmat), dan kebajikan (hikmah). Sebagai rahmat bagi semesta alam, al-Qur’an mengakui kemajemukan keyakinan dan keberagaman. Islam sebagai membawa kesejahteraan bagi seluruh alam termasuk hewan, tumbuhan, apalagi manusia.

penulis : Us’an

+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Avatar

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of