15 views

Hari Pertama P2K, Telekonferensi Penuh Kendala

     Senin, 02 September 2019 pukul 08:00 Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Kasiyarno dengan resmi membuka Program Pengenalan Kampus (P2K) di hadapan perwakilan mahasiswa di ampiterium gedung utama kampus IV lantai 10. Prosesi itu pun disiarkan langsung melalui telekonferensi di lima Kampus UAD.

Kasiyarno mengatakan, tema P2K kali ini tentang Indonesia KUAD: Bersama Bersahaja Kita Bangun Insan Kreatif, Inovatif Berbasis Didik Islam Menuju Indonesia Kuat. “ Insyaallah anda akan menjadi generasi yang maju, generasi-generasi yang kuat, menjadi bangsa yang mandiri,” ujar Kasiyarno.

P2K yang diadakan dengan memanfaatkan teknologi modern ini menghadirkan Paristiyani Nurwadani, Direktur Pembelajaran pada Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan membawakan materi perihal mahasiswa milenial di era industri 4.0 dan global. “ Dalam masa empat tahun ke depan keluar dengan kesuksesan luar biasa sebagai lulusan UAD, maka tidak cukup hanya menggunakan dokumen transkip dan ijazah perusahaan global di era milenial ini akan menanyakan sertifikat kompetensi,” ujarnya.

Kendala P2K Konsep Baru

Dalam penerapan konsep baru P2K tahun ini, Khizam Syakir Mahfudz selaku Ketua Panitia Pusat (Panpus) mengatakan terdapat beberapa kendala berupa audio dan visual saat pembukaan P2K yang menggunakan telekonferensi. ”Webcam yang dipake belum standar telekonferens televisi nasional, jadi sedikit kuning (layar-red). Kamera tersebut pengajuan dari TV UAD ke universitas ke BIMAWA . Kendala kita vendor sound setiap kampus berbeda, dan sound-nya belum dimaksimalkan dengan baik jadi agak kacau,” jelas Khizam.

Hal itu juga dirasakan Riki Pratama selaku Wakil Ketua Panitia Fakultas Teknik Industri (FTI). Ia mengatakan bahwa untuk fasilitas P2K kurang memadai, seperti kurangnya kain penutup sisi kiri dan kanan yang menyebabkan banyak cahaya masuk sehingga membuat video dari proyektor tidak kelihatan. Ditambah lagi telekonferensi yang dianggapnya kurang efektif. “ Seperti ini kan mereka seperti ibarat videocall aja ya kan, kek tadi rektor ngomong mereka kek acuh tak acuh aja mereka. Kalau dibandingkan sistem tahun lalu kan lebih efektif gitu mereka kumpul semua,” ujarnya.

Selain panitia, mahasiswa baru juga merasakan kendala dari telekonferensi ini. Nawidia Asmara mahasiswa baru asal Belagungan yang mengambil program studi Sastra Inggris mengatakan bahwa ia tidak bisa melihat dan mendengar secara jelas karena video dari proyektor tertutup oleh pohon dan suaranya yang kecil.

Penulis : Siska

Editor : Aponk

Please follow and like us:
error
Avatar

persmaporos

Menyibak Realita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *