Jilbab Asa

Sumber gambar: Vector

“Aku akan mengakhiri semuanya,” kata Rani.

Aku sontak menatapnya. Layar ponsel yang  semula kuusap guna  mengganti slide foto, terhenti sementara. Tidak biasanya  dia seperti ini. Rani yang kukenal adalah gadis yang selalu bersikap positif dan ceria. Baru kali ini ia terlihat putus asa.

“Ada apa? Apa yang ingin kamu akhiri?” tanyaku meminta penjelasan lebih lanjut. Kami sudah lama berteman, hampir semua masalah kami selesaikan bersama. Lalu, apa yang tidak aku ketahui? Apa yang membuat ia mengeluarkan kalimat yang mengusir raut cerianya?

“Apapun, semua hal yang bisa kuakhiri. Aku akan mengubahnya. Aku  ingin menciptakan akhir yang berbeda. Kurasa akan ada penyesalan jika aku tidak berubah dan mengakhirinya sekarang,” jawabnya dengan tatapan kosong.

“Jangan berbelit. Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu. Katakan dengan kalimat yang mudah kumengerti,” balasku. “ Apa aku membuat kesalahan?” tanyaku kemudian.

Rani menggeleng, lalu memelukku. Pelukan yang terasa berbeda. Sepertinya, banyak hal yang ingin ia sampaikan melalui pelukan ini. Secara otomatis aku menepuk punggungnya, agar memberikan rasa tenang. Entah ini hanya perasaanku atau memang nyata, pelukan ini terasa seperti  salam perpisahan. Aku jadi teringat, saat aku mendapat kehangatan pelukan dari mendiang ibu sebelum Yang Maha Kuasa mengambilnya.

Jilbab yang kukenakan terasa sedikit basah. Suara isakan mulai terdengar. Rani menangis dalam pelukan kami. Ayolah, masalah sebesar apa hingga air mata  harus tumpah ruah untuk mewakili semua dukanya?

“Tidak ingin bercerita?” tanyaku setelah beberapa saat kami terkunci dalam keheningan. Isakan Rani juga sudah mulai mereda, pelukannya pun tidak seerat tadi. Kurasa gadis berlesung pipit itu sudah merasa lebih baik. Jadi, kuputuskan untuk memulai sesi curhat.

“Ririn,” panggilnya lirih. “Aku akan mengakhirinya, aku akan mengubah penampilanku,” lanjutnya.

Aku bingung. Apa maksud ‘mengubah penampilanku?’ Menurutku, Rani adalah gadis yang sudah terpahat dengan proporsi ideal. Wajahnya yang berbentuk oval, sangat selaras dengan matanya yang berbentuk kacang almond, dipertegas dengan hidungnya yang mancung, dan rambutnya yang ikal setengah punggung. Selebihnya, kecantikan Rani memang sering dibuktikan dengan deretan nama mantan pacar, gebetan, dan teman laki-lakinya yang cukup banyak. Rani memang tidak berjilbab sepertiku, tetapi…, sebentar!

Baca Juga:  Menjadi (Sang) Kuni

“Kamu ingin berhijab?” Aku menatap sambil memegang kedua bahunya. “Kamu ingin mengakhiri penampilanmu yang sangat modern ini? Benarkah? Kamu rela menutup rambut ungumu yang sempurna ini?” Aku memastikan.

 Kepala Rani perlahan menunduk lalu terangkat, berikutnya ia mengangguk dengan cepat. Sontak kupeluk tubuhnya, dalam hati aku mengucapkan kalimat syukur.

“Aku mau sama kamu sampai kita tua. Bersahabat denganmu adalah sebuah anugerah. Aku banyak belajar cara bersyukur dan ikhlas.” Rani tersenyum tulus.

Setelah itu Rani berdiri, ia mengambil jilbab yang ia taruh dengan rapi di lemari dan langsung mengenakannya. Dia terlihat lebih cantik saat jilbab menutupi kepala hingga menjuntai melebihi dada. Aku memang belum lama berhijab, tetapi entah mengapa aku merasa bermanfaat bagi orang lain.

“Ayo, temani aku ke salon. Mau potong rambut. Perubahan baru diawali rambut baru, ” ujarnya.

Ngawur! Teori dari mana itu?” Aku menepuk pundaknya sambil tertawa pelan. Kemudian aku mengangguk mengikuti keinginan Rani untuk mengantarnya ke salon. Kami mengendarai sepeda motor menuju tempat potong rambut itu. Tidak ada menit yang kami lalui tanpa bersenda gurau. Pengendara lain sesekali menatap kami, karena berbicara terlalu keras atau tertawa terus menerus.

Tak sampai tiga puluh menit, kami sampai di salon. Rani langsung berbincang dengan salah satu karyawan, sementara aku menunggu di kursi sembari membuka majalah kecantikan yang disediakan. Tiap lembar dari halaman majalah menampilkan model rambut, fashion, hingga warna kutek. Aku tersenyum, sedikit terpaksa  memang. Setiap kali melihat rambut-rambut para model dengan potongan modis, hatiku remuk. Tepukan pelan di bahu, membuatku menutup buku dengan segera. Rani sudah selesai dan mengajakku pulang.

Baca Juga:  Sate untuk Cia

Sampai di kamar, Rani membuka jilbab, menunjukan rambut barunya. Jika sebelumnya aku selalu memuji potongan rambut baru Rani, kali ini hanya tatapan bingung yang aku berikan. Alih-alih memperindah rambutnya, Rani justru menghabiskan setiap helai mahkota setiap manusia itu. Botak.

“Ran, kamu gila! Maksud kamu apa? kok bisa….”

“Kamu yang gila, Ririn!” Rani menatapku tajam. “Aku kira selama ini kita berteman tanpa ada rahasia yang disembunyikan, tetapi nyatanya aku salah. Aku selalu berbagi cerita, sedangkan kamu terlalu tertutup. Apa kita masih bisa dibilang berteman, Ririn.” Rani berujar dengan mata berkaca-kaca.

“Ada apa?” tanyaku. Tidak pernah terbayangkan  akan ada situasi semacam ini. Otakku memutar semua  kepingan kebersamaan dengan Rani. Rasanya, tidak ada satu kesalahanpun yang kubuat. Belum sempat otakku berpikir lebih jauh, jilbab yang kukenakan ditarik paksa oleh Rani.

“Kamu yang sakit! Gila kamu!” teriaknya tepat di depan wajahku. Raut wajah Rani penuh dengan kekecewaan dan itu membuatku gusar.

“Ran…,” panggilku.

“Kalau aku tidak menarik paksa jilbabmu, sampai kapan kamu akan menutupi kankermu? Aku cukup terkejut saat kamu memutuskan berhijab, aku pikir kamu benar-benar ingin berubah, tapi ternyata menutupi kebotakan juga termasuk dalam rencanamu.” Rani mengguncang tubuhku.

Air mataku menetes. Aku tidak menyangka Rani akan mengetahui penyakitku. Rani benar, aku memakai jilbab bukan 100 persen murni karena ingin berhijrah, tetapi jilbabku memang dialihfungsikan sebagai penutup kepala yang botak akibat kemoterapi.

“Bagaimana bisa kamu menyembunyikan semuanya sendiri, Rin.” Rani memelukku. “Kamu sahabatku, bagaimana bisa aku baru mengetahuinya sekarang? Rin, aku memutuskan untuk menghabiskan rambutku supaya kamu tidak merasa berbeda. Jika aku tidak melakukannya sekarang, aku takut semua akan terlambat dan aku menyesal.”

Sekarang aku tahu, pelukan Rani sebelum kami pergi ke salon memang berbeda. Bukan aku yang harusnya merasa akan ditinggalkan. Tetapi, pelukan putus asa tadi, Rani yang merasakan. Dia hanya takut kehilanganku. Kami berpelukan cukup lama, terkunci dalam kesunyian. Jika aku menjadi dirinya, tentu aku juga akan melakukan hal yang sama. Kuharap, Rani hanya cukup  mengakhiri setiap helaian rambut indahnya, jangan sampai ia turut mengakhiri hidupnya jika ia tahu usiaku bahkan tidak sampai tahun depan.

Sumber gambar: vector

Penulis: Dilla Sekar

Editor: Kun Anis

Persma Poros
Menyibak Realita