![]()
Sampah Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mencapai 140 kilogram per hari. Ketua Green Campus Community (GCC), Siti Amaliani Utari mengatakan jumlah sampah yang dihasilkan selama P2K sekitar 600 kilogram.
“Kurang lebih sekitar 500 sampai 600 kilogram kalau ditotal lima hari,” ungkap Amaliani.
Sementara itu, Ketua Panitia Pusat (Panpus), Angga Yuniato menuturkan nantinya sampah-sampah ini akan diambil dan dikumpulkan di Kampus IV UAD. Setelahnya, sampah akan dikelola oleh pihak GCC. Angga juga menuturkan jika komunikasi dengan GCC hanya sebatas pengondisian sampah.
“Intinya teknisnya temen-temen Panpus dalam pemilahan sampah di tiap-tiap zona. Jadi komunikasi kepada panpus itu cuma sebatas pengkondisian sampah di P2K,” ungkapnya.
Angga juga mengatakan jumlah konsumsi untuk P2K mencapai 8000 porsi per hari. Jumlah ini sudah mencakup mahasiswa baru dan panitia.
“Mungkin lebih dari 8000 tiap hari ya,” ucapnya ketika diwawancarai reporter Poros (13/9).
Dalam hal pengelolaan sampah P2K, Angga mengatakan pihaknya menyediakan tiga titik tempat sampah yaitu di sisi timur, tengah, dan barat Jogja Expo Center (JEC). Nantinya, GCC akan mengelola sampah anorganik seperti kardus dan kertas.
Di sisi lain, Amaliani mengatakan untuk sampah organik akan langsung dikelola oleh pihak JEC.
“Untuk sampah organiknya yang ngurusin pihak JEC,” ungkap Amaliani.
Amaliani juga menuturkan jika pihak GCC akan menyetorkan sampah kepada Duitin. Duitin merupakan perusahaan yang bergerak di bidang daur ulang sampah. Pada P2K 2023, Duitin menjadi mitra yang bekerja sama dengan GCC dalam pengondisian sampah anorganik. Menurut Amaliani, uang yang dihasilkan dari penjualan sampah kepada Duitin akan digunakan untuk keperluan kampus.
“Untuk hasil, kan nanti itu kita dapat uangnya kan ya, nah, itu biasanya kita danain ke Lazismu atau buat kampus,” ungkap Amaliani.
Sementara, untuk pengelolaan sampah JEC, Human Resource JEC, Andi Human mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan masyarakat Gunungkidul untuk mengelola sampah.
“Kita kerjasama di Gunungkidul. Sampahnya nanti dikelolah oleh masyarakat,” terang Andi.
Andi menambahkan sampah plastik ini dimanfaatkan masyarakat Gunungkidul untuk dijadikan kerajinan dan dijualkan kembali. Selain itu, sampah plastik seperti kresek akan dijual ke pabrik-pabrik. Sementara, untuk sampah organik akan diolah kembali menjadi pupuk.
“Biasanya mereka jadikan pupuk untuk yang basah, bekas-bekas kuliner itu buat pupuk mereka campuran,” jelas Andi.
Sementara itu, Amaliani mengatakan jika kerja sama dengan Duitin hanya berjalan selama P2K berlangsung. Sementara untuk pengelolaan sampah harian, UAD bekerja sama dengan perusahaan pengelolaan sampah lain, Hibar Jaya.
Salah satu anggota Hibar Jaya, Taslan, mengungkapkan bahwa ia rutin mengambil sampah di UAD. Tiap harinya, menurut Taslan, sampah yang diangkut kurang lebih satu ton.
“Kalau sehari yo paling lima ratus (Kilogram-red) atau satu ton,” terangnya.
Amaliani juga menambahkan bahwa pengelolaan sampah di UAD masih kurang, karena sampah yang sekarang masih menumpuk.
“Tapi sejauh ini kayaknya mereka (Pengelola-red) masih membakar atau hanya ditumpuk,” ungkapnya.
Hal ini juga diamini oleh Taslan. Kepada Poros, Taslan mengatakan jika sampah kering nantinya memang akan dibakar.
“Dipilah dulu, trus yang lainnya sementara dimusnahkan. Dimusnahkan ya berarti dibakar,” terangnya.
Semantara untuk sampah basah akan dikelola di gudang yang ada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan.
“Yang basah nanti kita masukin gudang nanti kita buang, kan di (TPA-red) Piyungan ada tempat pembuangan yang punya pribadi itu, cuma bayar,” ungkap Taslan.
Reporter: Lutfi Adib, Narendra Brahmantyo K.R, Gilang Ihksan, Nova, Tiya, Rafi
Penulis: Rafi Fadlullah
Penyunting: Sholichah
Menyibak Realita
