Pameran Nandur Srawung X: dari Aktivisme, Inklusivitas, hingga Ekologi

Pameran Nandur Srawung X yang mengusung tema Habitat: Loka Carita mengadopsi nilai-nilai aktivisme hingga ekologi. Pameran yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta ini bertujuan untuk mendekatkan kehidupan seniman dengan masyarakat. Salah satu kurator Nandur Srawung X, Rain Rosidi, mengungkapkan bahwa seniman harus terlibat jauh dengan masyarakat.

“Itulah mengapa kita menyebutnya masyarakat seniman,” ungkap Rain pada jumpa pers (14/8/2023).

Tema Habitat diambil dari definisinya sebagai tempat tinggal organisme tertentu. Sementara Loka berarti lokasi tertentu dalam sebuah kebudayaan dan Carita berarti sastra lisan dari kebudayaan jawa yang maknanya cerita atau kisah. Carita biasanya ditemukan dalam dongeng atau kisah-kisah sejarah. Ketiga unsur ini sangat penting bagi kehidupan manusia.

Melansir dari Nandursrawung.com, Carita berperan penting dalam kehidupan masyarakat karena mampu membentuk identitas, mempengaruhi tindakan, mengarahkan pemikiran, meningkatkan keterikatan, dan secara umum berperan dalam menciptakan budaya.

Di samping itu, Nandur Srawung merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta sejak tahun 2003. Dalam mempertahankan eksistensinya selama satu dekade, Nandur Srawung X memiliki program tambahan, seperti Nandur Gawe dan Srawung Sinau.

Nandur Gawe merupakan bentuk observasi yang menghasilkan beberapa karya dalam pameran dan akan disebarluaskan di sejumlah situs karesidenan di Yogyakarta. Observasi ini bertujuan untuk mengenalkan warisan budaya dan situs residensi setiap daerah.

Metode Nandur gawe atau Residensi seni merupakan bentuk observasi yang menghasilkan beberapa karya dalam pameran dan akan disebarluaskan di sejumlah situs karesidenan di Yogyakarta. Observasi ini dilakukan bertujuan untuk mengenalkan warisan budaya dan situs residensi setiap daerah.

“Kehidupan manusia dan tradisi lokal diperlukan dalam karya visual,” jelas salah satu kurator Nandur Srawung X, Arsita Pinandita.

Baca Juga:  Permasalahan Sampah DIY Belum Selesai, Walhi Jogja: Kita Sedang Menghadapi Climate Crisis

Arsita juga mengungkapkan bahwa pameran Nandur Srawung kali ini akan dibagi menjadi enam klaster, yaitu identitas dan inklusivitas, literasi, aktivisme, spiritual, ekologi, dan teknologi.

Di samping itu, Srawung Sinau merupakan kegiatan merupakan wadah diskusi bagi para praktisi penyelenggara demi keberlangsungan ekosistem seni. Terlebih, Srawung Sinau akan dibagi menjadi tiga kategori kelas, yaitu Rancang Bangun Pameran Seni (exhibition designer), Penanganan Seni (Art handler), dan Penulisan Proposal Pameran Seni (Art proposal writing and development) yang akan diisi oleh Zulfian Amrullah dan Soga Studio.

Pameran yang dikuratori oleh Arsita Pinandita, Bayu Widodo, Irene Agrivina, Rain Rosidi, dan Sudjud Dartanto ini juga bertujuan untuk mengungkap bagaimana peran seniman dalam kelompok sosial masyarakat. Hal tersebut juga diamini oleh Rain.

“Seni sebagai kehidupan yang juga menghidupi, juga bagaimana masyarakat seni mempertahankan posisinya antara kelompok sosial lainnya.”

Tak hanya mewadahi seniman lokal, Nandur Srawung X juga mewadahi para seniman internasional untuk memperkenalkan karyanya dengan pendekatan artistik yang beragam.

“Ruang pameran pada tahun ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya karena membagi menjadi enam bagian yang menyajikan hubungan seni dengan spiritualitas, ekologi, identitas & inklusivitas, aktivisme, teknologi, dan kesadaran sejarah (literasi),” jelas Arsita.

Beberapa karya yang dipamerkan di Nandur Srawung X dikerjakan melalui metode riset di lapangan pada lima titik, yaitu Kulon Progo, Gunung Kidul, Sleman, Bantul, dan kota Yogyakarta. Di samping itu, Pameran Nandur Srawung X dilaksanakan delapan hari mulai 15 Agustus sampai 28 Agustus 2023 dan dibuka mulai pukul 11.00 sampai dengan 21.00 WIB.

Penulis: Nadya Amalia

Penyunting: Putri Anggraeni

Foto: Nadya Amalia

Persma Poros
Menyibak Realita