Rumah Perawan: Ketika Wanita Menjadi Komoditas Bisnis

Judul                : Nemureru Bijou (Rumah Perawan)

Penulis             : Yasunari Kawabata

Penerjemah     : Asrul Sani

Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Halaman          : 115 halaman

Rumah Perawan karya penulis Yasunari Kawabata adalah buku bergenre fiksi yang menarik, karena mengambil latar dan sudut pandang cerita berbeda dari karya pada umumnya. Keunikan tulisannya berasal dari kehidupan pribadi Kawabata yang getir. Kegetiran masa lalunya membentuk dan mempengaruhi karya-karyanya, termasuk Rumah Perawan. 1899 menjadi tahun yang membawa getirnya kehidupan Kawabata ketika ditinggal oleh ayahnya menjadi yatim saat berumur tiga tahun.

Rumah Perawan bercerita tentang masa tua laki-laki yang sunyi, tanpa hasrat, gairah, dan pudarnya kekuatan fisik biologis. Eguci, nama tokoh utama dalam novel ini, adalah seorang laki-laki tua berumur 67 tahun yang memasuki lorong kegelapan yang tidak biasa dan asing dengan menjelajahi dunia perdagangan manusia (human trafficking) dan prostitusi.

Dalam Dunia ini, para perempuan Jepang yang cantik dan perawan dijadikan komoditas bisnis prostitusi. Perempuan yang memiliki identitas maupun tidak, ditempatkan pada kamar-kamar kosong, menanti  para pelanggan untuk tidur bersamanya. Para pelanggan yang dinantikan adalah kakek-kakek tua yang ingin tidur nyenyak ditemani perawan telanjang, motivasi menunggu kematian dengan cara yang lebih nyaman. Kegiatan prostitusi dijalankan dengan cara membius para perempuan agar tidak sadar diri saat melayani para hidung belang.

Dalam buku ini, Kawabata memperlihatkan kualitasnya sebagai sastrawan dengan penciptaan narasi, pemilihan diksi, serta imajinasi ide yang liar. Dia berhasil mengungkap perspektif kebutuhan biologis laki-laki tua dengan menyajikan penokohan apik sehingga hubungan antara tokoh dan cerita benar-benar harmonis.

Di samping kelebihan di atas, Kawabata bercerita dengan cukup vulgar dengan membicarakan hal-hal tabu di negara kita. Untuk itu, bagi pembaca yang kurang suka dengan genre yang seperti ini disarankan untuk mempertimbangkan membaca buku ini.  Buku terjemahan bahasa Jepang ini sedikit sulit dipahami namun memiliki tata kalimat dan sastra yang unik.

Baca Juga:  Pemerintah Harus Baca Buku Arus Bawah

Perempuan Sebagai Komoditas Bisnis

Sejarah panjang prostitusi berawal dari kepentingan bisnis dengan menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu laki-laki yang tidak berkuasa atas dirinya (tubuhnya). Dalam buku Love for Sale: A World History of Prostitution karya Nils Johan Ringdal menyebutkan bahwa sekitar empat ribu tahun lalu, di Mesopotamia antara sungai Tigris dan Eufrat, bisnis ini lahir atas kepentingan agama berdasar pengabdian kepada Dewi Ishtar (Dewi cinta dan perangan). Saat itu, para perempuan menawarkan jasa kepada para pria yang memberikan uang ke kuil mereka. Horodus, sejarawan abad lima Sebelum Masehi menambahkan bahwa para perempuan akan  melakukan hal ini setidaknya sekali seumur hidup. Bagi mereka, beginilah cara mereka kehilangan keperawanan.

Pertumbuhan lokalisasi seks komersial berlanjut pada tahun 1884, ketika proyek pembangunan jalur rel kereta api penghubung kota-kota di Pulau Jawa dari Jakarta hingga Surabaya dimulai. Prostitusi digunakan untuk melayani para pekerja konstruksi pembangunan jaringan kereta api. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan prostitusi, pembangunan fasilitas berupa penginapan juga turut berkembang.

Sejarah perkembangan prostitusi di dunia maupun di Indonesia memperlihatkan betapa banyaknya motif yang melatarbelakangi pertumbuhan bisnis ini. Mulai akibat dari kepentingan agama, negara, hingga sarana penunjang pembangunan jalur kereta api. Ibarat lingkaran setan, aktivitas mengerikan ini mengikat, menjerat, menjebak, dan merugikan perempuan.

Hikmah dan Nilai Moral

Banyak hikmah yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran dalam novel ini. Nilai moral yang disampaikan Eguci adalah walaupun dia pelanggan prostitusi, dia masih bisa berpikir bahwa menjadikan perempuan sebagai komoditas bisnis tidaklah etis dan mencoba beberapa kali menyelamatkan mereka dari belenggu bisnis ini.

Manusia merupakan makhluk kompleks dengan dinamika kehidupannya. Novel ini membuka mata kita bahwa setiap orang mempunyai posisi dan proporsi yang berbeda dalam menjalankan hidupnya. Karena, memang standar dan idealisme kehidupan setiap orang berbeda. Apalagi, kita tidak mengetahui secara penuh keadaan kehidupan mereka yang sesungguhnya dengan kehidupan tersebut.  Jadi, alangkah baiknya untuk tidak membanding kehidupan kita dengan orang lain.

Baca Juga:  In Time

Kita sebagai sesama manusia, hanya dapat menghargai dan memberikan kebebasan kepada orang lain serta tidak menghakimi kehidupan mereka. Semua mempunyai hak dan kebebasan yang sama dalam lindungan payung hukum.  Terakhir, perempuan bukanlah barang yang diperdagangkan, melainkan makhluk yang berhak dihargai dan tidak diperlakukan semena-mena.

Penulis : Maliki Sirojudin A.

Editor : Sinta Anggraeni

Sumber Gambar :  www.goodreads.com

Persma Poros
Menyibak Realita