Senang Hati Ada Aksi

Penjual es dung-dung, Samat Abdullah, merasa senang ketika ada aksi demonstrasi yang dilaksanakan di area kampus Universitas Gadjah Mada. Peristiwa ini sangat ditunggu-tunggu Samati, pria yang sudah berjualan es dung-dung hampir 29 tahun itu. Sebab, cerita Samati, penjualannya selalu melonjak dan tidak seramai hari-hari biasa.

“Sebelum-sebelumnya sangat ditunggu-tunggu, tapi kalau start-nya di UGM sangat menjanjikan. Kadang yang dari UIN sedikit yang beli”, tuturnya ketika ditanyai reporter Poros terkait seberapa sering berjualan di area yang sedang melangsungkan aksi.

Memperingati satu tahun disahkannya Omnibus Law, Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) melakukan aksi pada Sabtu, 9 Oktober 2021. Dalam aksi ini, ARB memgusung tema Selamatkan Warga Jogja sekaligus membawa tuntutan penyelesaian persoalan di regional Yogyakarta dan nasional.

Adapun tuntutan di regional Yogyakarta, di antaranya tetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang layak, stop penambangan illegal atau tidak ramah lingkungan, dan cabut Pergub DIY Nomor 1 tahun 2021.

Sementara, tuntutan di kancah nasional, seperti cabut Omnibus Law dan segala peraturan turunannya; cabut UU Minerba; cabut UU KPK, pecat Firli Bahuri, dan pulihkan KPK; laksanakan reforma agraria; tuntaskan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM); stop kriminalisasi dan intimidasi terhadap aktivis; sahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) versi draf jaringan masyarakat sipil; buka ruang demokrasi seluas-luasnya di West Papua; dan tolak komersialisasi pendidikan

Kemudian, tak hanya Samati, seorang perempuan bernama Nurhayati, pemilik warung makan yang berlokasi tepat di sebelah timur dari Bundaran UGM juga merasa senang dengan adanya aksi demonstrasi yang dilaksanakan di area kampus UGM. Sebab, menurutnya, aksi semacam ini menambah keuntungan warung makannya.

“Iya, tambah laris lebih rame daripada hari-hari biasa”, ucap Nurhayati.

Baca Juga:  Diskusi Horizontal: Menilik Maladministrasi Kebebasan Berpendapat di Perguruan Tinggi

Lebih dari itu, cerita Nurhayati, selama adanya aksi di area UGM ini, warungnya belum pernah terkena rusuh atau perusakan dari massa aksi. Tiap aksi, terangnya, malah selalu menambah keuntungan berjualan nasi rames.

 

 

Penulis: Fariza dan Wanda

Penyunting: Adil Al Hasan