The Pianist: Inspirasi atau Ironi?

Loading

Identitas Film

Judul: The Pianist

Sutradara: Roman Polanski

Pemeran: Adrien Brody (Wladyslaw Szpilman), Thomas Kretschmann (Wilm Hosenfeld), Emilia Fox (Dorota)

Tanggal Rilis: 6 September 2002

Durasi: 150 menit

Pertama kali mengetahui film The Pianist, terbesit dalam pikiran saya bahwa film ini akan menceritakan perjuangan seseorang dalam menggapai mimpi sebagai pemain piano. Saya langsung tertarik, mungkin ini adalah sebuah film motivasi yang bagus. Tanpa mencari tahu lebih lanjut, saya mulai menonton film tersebut sampai selesai. Siapa sangka, dugaan yang selama ini disimpan ternyata salah besar. Film karya Roman Polanski yang tayang pada tahun 2002 tersebut menceritakan sisi kelam pendudukan Nazi di Polandia.

Perjalanan Sang Pianis Menemukan Kembali Nadanya

Film The Pianist mengikuti kisah Wladyslaw Szpilman, seorang pianis Yahudi di Warsaw, Polandia. Hidup Wladyslaw yang damai bersama keluarganya berubah drastis setelah Nazi menduduki Polandia. Mereka bersama orang Yahudi lainnya dipaksa masuk ke Warsaw Ghetto, lokasi pengasingan yang dipagari tembok, penuh kelaparan dan penyakit. Ibarat penjara yang secara perlahan membunuh orang-orang. Dalam kondisi serba terbatas, Wladyslaw berusaha menghidupi keluarga dengan menjual buku bersama saudaranya dan sesekali bermain piano di restoran.

Perjuangan sesungguhnya baru terjadi ketika Nazi menjalankan program pemindahan orang Yahudi ke Kamp Konsentrasi Treblinka. Wladyslaw berupaya keras mendapatkan sertifikat pekerjaan untuk ia dan keluarganya, agar mereka tidak dipaksa ikut ke Kamp Konsentrasi. Takdir berkata lain, keluarganya tetap dipaksa untuk dipindahkan ke sana. Keluarga Wladyslaw pasrah dan segera berkemas barang untuk berangkat melalui kereta api. Tak disangka, dalam perjalanan menuju kereta, Wladyslaw ditarik paksa dari kerumunan oleh seorang polisi Yahudi.

Menyerah dan tanpa tujuan, ia kembali ke Ghetto sambil menangis meratapi nasibnya. Wladyslaw kemudian bergabung sebagai pekerja Yahudi bersama teman lamanya, menyaksikan kekejaman Nazi secara langsung. Waktu berlalu hingga para pekerja Yahudi dikumpulkan dan dipaksa berbaris di hadapan tentara. Sayangnya, teman Wladyslaw juga ikut terpilih dan langsung mengikuti instruksi untuk tengkurap. Tentara mulai menembak satu per satu orang Yahudi yang terpilih sampai akhirnya temannya turut ditembak, tepat di kepala. Wladyslaw hanya bisa menyaksikan semuanya dengan getir tanpa mampu berbuat apa pun

Baca Juga:  Green Book: Persahabatan di Tengah Masyarakat Rasisme

Wladyslaw kemudian melarikan diri, selepas itu ia dibantu pasangan non-Yahudi untuk bersembunyi di apartemen kosong. Saat mulai kehabisan makanan, Wladyslaw mencari ke rak lemari, nahas rak itu tak kuat menahan tubuhnya dan roboh. Piring-piring pun berjatuhan  hingga pecah berantakan. Tetangga mendengar kegaduhan lalu memaksa Wladyslaw untuk keluar. Perempuan berperawakan galak datang dan memintanya untuk menunjukkan kartu identitas yang pasti tak ia miliki. Perempuan itu menduga ia seorang Yahudi dan meneriakinya. Wladyslaw panik, berlari meninggalkan apartemen yang melindunginya untuk sementara waktu.

Tak tahu harus kemana, Wladyslaw mengeluarkan alamat darurat yang diberikan padanya. Setelah mencari, ia mendapati bahwa alamat itu milik orang non-Yahudi yang merupakan teman lamanya sebelum perang. Mereka menyuruh Wladyslaw untuk menempati sebuah apartemen kosong seperti sebelumnya. Wladyslaw mengikuti perintah mereka dan pindah ke sana untuk sementara waktu. Tragis, persembunyian itu hancur ketika artileri Jerman menghantam bangunan tersebut dan membuatnya tak lagi aman. Ia terpaksa melarikan diri untuk pertama kalinya secara sendirian. Pertolongan terakhir lenyap begitu saja, memaksanya hidup di antara reruntuhan kota, berpindah dari satu gedung hancur ke gedung lain, mencari sisa-sisa makanan demi bertahan hidup.

Di titik terendah itulah ia bertemu seorang perwira Jerman saat berusaha membuka kaleng makanan. Alih-alih mengeksekusinya, sang perwira meminta Wladyslaw bermain piano dan tergerak oleh permainannya. Perwira tersebut kemudian memberinya makanan dan mantel untuk bertahan hidup hingga pasukan Soviet memasuki Warsaw. Sayangnya, mantel itu membuat tentara Polandia hampir menembaknya karena mereka menyangka ia tentara Jerman. Setelah menjelaskan identitasnya, Wladyslaw akhirnya diselamatkan. Film pun ditutup dengan ending yang cukup emosional dan membuat hati penonton tertegun.

Kenyataan Hari Ini Lebih Tragis daripada Adegan Sang Pianis

Selesai menonton The Pianist, sebagian besar penonton tentu akan larut dalam simpati terhadap perjuangan hidup Wladyslaw. Film itu memang menyayat hati lewat adegan pemisahan keluarga, teman yang dibunuh, tangis di tengah reruntuhan kota, bertahan hidup di gedung yang nyaris runtuh, hingga bom yang terus menghujani. Semua adegan itu terasa kejam, begitu mengiris, dan kita tak ragu menyebut kebengisan Nazi sebagai sesuatu yang tak bisa ditoleransi.

Baca Juga:  Law School: Hukum Harus Menghasilkan Keadilan

Di titik itulah kita perlu mengasah kepekaan kritis, bahkan ketika kita hanya menonton film. Simpati yang digerakkan oleh film tersebut, sehalus dan sekuat apa pun kemasannya bukan sekadar simpati universal tetapi simpati yang diarahkan pada satu kelompok, orang Yahudi. Pada dasaranya, memang tidak ada yang salah dengan itu. Namun, jika berkaca pada konflik yang terjadi di Palestina, hal tersebut terasa kontradiktif. Adegan-adegan kepedihan Wladyslaw nyatanya merupakan kehidupan sehari-hari seseorang di Palestina saat ini. Kebengisan yang dulu menimpa Wladyslaw kini dialami jutaan warga Palestina akibat kekejaman Zionis. Adapun dan yang membedakannya, peristiwa di Palestina bukanlah adegan film, melainkan realitas yang tengah berlangsung puluhan tahun.

Menurut saya, di balik kisah yang menginspirasi tersimpan niat tersembunyi dalam film tersebut. Saya berpikir, mungkin niat tersembunyi pembuatan film ini adalah untuk menunjukkan bahwa orang Yahudi tak seburuk yang dibayangkan. Dengan kata lain, film ini menjadi sebuah propaganda untuk mendukung kaum Yahudi. Karena itu, pertanyaan paling jujur untuk kita sebagai penonton, yaitu mengapa simpati yang begitu mudah muncul untuk Wladyslaw tidak selalu muncul saat melihat masyarakat Gaza? Jika kita hanya tersentuh oleh visual estetis film, tetapi tak tergerak oleh penderitaan nyata, bisa jadi rasa iba itu bukan bersumber dari kemanusiaan, melainkan sekadar dari pesona sinematik.

Pada akhirnya, The Pianist justru membuka ironi sejarah, apa yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan yang terjadi selama perang dunia II.  Dahulu, Yahudi adalah kaum tertindas yang hampir dibinasakan oleh “pak kumis” berinisial H. Kini, ketika mereka telah memiliki negara bernama Israel, sebagian dari mereka menjelma menjadi apa yang dulu ditakutkan para leluhurnya menjadi penindas baru. Banyak yang akan berargumen bahwa tidak semua Yahudi mendukung penjajahan, dan itu benar. Namun satu hal yang pasti, tragedi lama terulang kembali, lingkaran setan tak dapat diakhiri. Sejarah yang seharusnya menjadi pelajaran justru menjelma sebagai dendam yang tak tuntas.

Penulis: Awandha Aprilio

Penyunting: Raudhah Ananda

Persma Poros
Menyibak Realita