Buah Manis Desa Wisata

Salah satu objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ialah wisata pedesaan atau disebut juga desa wisata. Hingga November 2015, tercatat ada 120 desa wisata yang tersebar di empat kabupaten dan Kota Yogyakarta.

Maraknya desa wisata di DIY, menjadi salah satu peluang  peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan BAB II Pasal 4 butir b, Kepariwisataan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Peningkatan kesejahteraan tersebut dapat dilihat melalui indikator kesejahteraan.

Semua pihak yakin bahwa pariwisata hanya mampu bertahan (sustainable) apabila dampaknya pada peningkatan kesejahteraan dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan wisata (Damanik, 2013:7). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan desa wisata diharap memberikan manfaat kepada masyarakat sebagai pelaku pariwisata. Namun hingga saat ini, manfaat yang dimaksud terasa belum maksimal, bahkan banyak desa wisata yang tidak membawa perubahan (stagnan) terhadap masyarakat desa.

Oleh karena itu, Litbang Poros melakukan penelitian terkait pengaruh desa wisata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Variabel dan indikator penelitian meliputi lingkungan fisik; kebersihan lingkungan, infrastruktur jalan, ekonomi; peningkatan pendapatan, keamanan, dan kondisi sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sebelum dan sesudah  menjadi desa wisata.

Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif, dengan cara membagikan angket kepada responden. Angket terdiri dari 12 pertanyaan tertutup. Penelitian dilaksanakan sejak tanggal 29 Oktober-31 Desember 2015.  Satuan analisis dalam penelitian ini adalah Kepala Keluarga (KK) yang dijadikan sebagai responden, dengan asumsi bahwa kepala keluarga lebih mengetahui kondisi sosial ekonomi rumah tangganya, dan juga lebih mengetahui  keberadaan desa wisata.

Sebanyak 278 Responden ditentukan dengan teknik cluster sampling (area sampling) melalui dua tahap. Tahap pertama menentukan sampel desa wisata yang akan diteliti, dan tahap berikutnya menentukan responden dengan teknik quota sampling. Responden berdomisili di 18 desa wisata yang tersebar di empat kabupaten dan Kota Yogyakarta. Meski demikian, kesalahan dimungkinkan terjadi. Hasil metode penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh masyarakat di DIY.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui, sebelum menjadi desa wisata masyarakat yang memiliki penghasilan dibawah Rp 500.000 yaitu sebanyak 49,28%. Persentase ini merupakan jumlah paling tinggi dibandingkan persentase pendapatan lainnya. Setelah menjadi desa wisata terjadi perubahan, sebanyak 34,17% responden menjawab memiliki pendapatan sebesar Rp. 600.000 – Rp. 1.000.000. Presentase ini adalah yang paling tinggi dibandingkan presentase pendapatan yang lain. Hal ini menunjukkan kehadiran desa wisata memberikan perubahan pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Selain faktor ekonomi, angka tindak kejahatan di desa merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Karena, semakin kecil angka tindak kejahatan di desa wisata, maka semakin tinggi rasa aman yang dirasakan oleh masyarakat desa. Sebelum ada desa wisata tindak kejahatan (pencurian, perampokan, perkelahian, dan lain sebagainya) yang terjadi yaitu sebanyak 5%. Namun, setelah menjadi desa wisata persentase tersebut menurun menjadi 2%.

Salah satu unsur di dalam Sapta Pesona Desa Wisata adalah kebersihan. Terkait kebersihan di lingkungan desa,  65,83 % responden menjawab sebelum menjadi desa wisata tidak banyak sampah yang  berserakan. Kemudian setelah menjadi  desa wisata sebanyak  86,69 % responden menjawab hal yang sama. Setelah menjadi desa wisata sampah yang berserakan menjadi berkurang. Ini menunjukkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan mengalami kenaikan dibandingkan sebelum menjadi desa wisata.

Ketersediaan tempat sampah mendukung  terciptanya kebersihan lingkungan, apalagi jika daerah tersebut sering dikunjungi oleh wisatawan. Sebanyak 59 % responden menjawab tidak banyak tempat sampah yang disediakan di desanya sebelum menjadi desa wisata dan 79% menjawab setelah menjadi desa wisata banyak tempat sampah yang telah disediakan.

Tingginya kesadaran sosial untuk bergotong-royong adalah salah satu ciri khas masyarakat pedesaan. Seperti saat kerjabakti membersihkan lingkungan desa, serta kegiatan rutin lainnya yang melibatkan seluruh masyarakat. Menurut data, sebelum terbentuknya  desa wisata, satu kali dalam sebulan sebanyak 38,49% masyarakat melaksanakan kerja bakti.  Setelah menjadi desa wisata, 57,91 % masyarakat desa melaksanakan kerja bakti dan berlangsung lebih dari dua kali dalam sebulan. Hadirnya desa wisata diharapkan tidak mengubah kondisi sosial seperti hilangnya aktivitas gotong-royong dalam masyarakat.  Namun sebaliknya, kehidupan bermasyarakat semakin erat.

Infrastruktur berupa jalan yang bagus sangat menunjang kelancaran aktifitas masyarakat di desa wisata. Sebelum ada desa wisata 55% responden menjawab kondisi jalan tidak bagus, dan 44% menjawab jalan sudah bagus. Namun, setelah menjadi desa wisata, 12% responden menjawab kondisi jalan tidak bagus, 87% menjawab jalan sudah bagus, dan 1% lainnya error. Ini menunjukan setelah menjadi desa wisata terjadi perubahan yang cukup signifikan yaitu kondisi jalan menjadi semakin bagus.

Berdasarkan persentase diatas, dapat dilihat bahwa kehadiran desa wisata membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Diantaranya terhadap lingkungan fisik; kebersihan lingkungan, infrastruktur jalan, ekonomi; peningkatan pendapatan, keamanan, dan kondisi sosial masyarakat. Meskipun pengaruh tersebut tidak terlalu signifikan yaitu antara 1%-43% saja.

Marwah Ulfatunnisa

Perempuan yang berkacamata suka menikmati senja dan membaca buku sastra

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *